Minggu, 06 Desember 2015

Penduduk Tak Perlu Bayar Retribusi

"Kita bayar kok mereka enggak?" Seorang mahasiswa mengomentari motor yang melewati pos retribusi wisata tanpa membayar. Motor itu melenggang saja tanpa mengenakan helm dan tanpa membayar retribusi masuk.

"Ya mereka anak sini," jawab yang lain sambil menyerahkan sejumlah uang untuk membayar parkir dan retribusi yang lain.

Memang hal yang menguntungkan bila suatu wilayah menjadi maju dan penduduknya makmur. Kita senang orang juga senang. Wisata semakin mantap digarap.

Wisata adalah milik kita semua. Semua harus ikut serta mengembangkan wisata. Tanpa terkecuali. Jadi semua harus membayar retribusi. Bila ada yang tidak membayar retribusi, barangkali mereka punya kontribusi pada bidang lain.

Pekerjaan Tiga Orang Seperti Empatpuluh Orang

Hah? Tiga orang sebanding dengan empatpuluh orang? Mana bisa? Bisa saja! Bila anggota kelompok tidak mengerti apa yang dilakukan maka orang banyak yang terkumpul tidak akan bekerja. Praktis yang bekerja hanya sedikit saja. Namun, anggota kelompok tiga orang bila mengerti tugasnya maka akan seperti pekerjaan empatpupuh orang.

Hal seperti ini kiranya menjadi penting bagi kita. Anda tak perlu pesimis bila punya anggota regu hanya sedikit bila menghadapi masalah. Anda hanya perlu waspada bila anggota tidak siap. Toh banyak organisasi/kelompok yang dapat besar hanya karena beberapa orang saja, tak perlu banyak.

Anda harus pesimis dan bersyukur ketika mendapat seorang partner dan teman yang sudah dapat saling mengisi dan melengkapi setiap ide dan pergerakan yang menunjang kemajuan kelompok dan anggota-anggotanya.

Kalau Bepergian Ajak-ajak Donk!

Pernah seorang pemuda merasa tertipu. Ketika ia mengira diajak jalan-jalan ke pantai.. eehh.. ternyata sang pemimpin rombongan mengajak ke gunung. Otomatis hati kesal tiada kepalang. Rasa kecewa menggelayut hati untuk beberapa saat lamanya.

Entah seberapa kesal hati orang yang diajak, yang penting dia sudah diajak. Itu sudah menjadi nilai plus. Jaman sekarang orang sering jalan-jalan sendiri dan lupa pada teman lain.

Jalan-jalan atau bepergian memang harus mengajak teman. Selain bergembira bersama paling tidak kita bisa berbagi "kesusahan" bersama di perjalanan. Bersama-sama akan lebih aman misalnya saat pecah ban, kehabisan bensin, atau ada kejahatan di jalan.

Ingin Bertamasya? Siapkan Mental, Fisik, dan Kendaraan Anda

Tamasya atau jalan-jalan seringkali dilakukan oleh kawula muda untuk melepas penat. Biasanya mereka jalan-jalan tiap akhir pekan atau ketika duit banyak. Tempat-tempat yang ditawarkan lewat media memang kadang menggiurkan. Kadang juga foto dari teman yang sudah bepergian ke sana membuat hati ini "cemburu" dan ingin mengunjungi tempat yang difoto selfie oleh teman itu. Banyaklah alasan yang menggulung hati untuk jalan-jalan.

Dalam jalan-jalan memang fisik dan mental perlu disiapkan. Pikiran harus tenang agar berkendara nyaman. Badan harus dalam kondisi fit agar perjalanan aman. Lalu kondisi kendaraan harus segar-bugar dalam arti tidak terganggu sesuatu yang fatal.

Berikut bagian kendaraan yang harus diperiksa dan siap saat bertamasya:

1. Spion
Kebanyakan orang tidak menggunakan spion untuk melihat belakang. Sebagian kecil saja yang menggunakan spion untuk keperluan melihat arah agar lebih mudah. Sekalipun hanya sebagian kecil orang menggunakan spion, alat ini penting guna menunjang keamanan berkendara. Maka, pastikan spion standar terpasang dengan aman

2. Lampu Motor
Lampu motor penting digunakan saat siang dan malam hari.Kondisi lampu sempurna dibutuhkan terutama bagi kita yang suka bepergian ke gunung atau pantai yang jauh dari pemukiman penduduk dan tidak terdapat banyak penerangan jalan.

3. Ban dan Rem
Ban dan rem haruslah dalam kondisi utuh dan tidak banyak aus. Rem kaki (untuk ban belakang) dan rem tangan (untuk ban depan) kiranya diganti dan dipastikan fit ketika hendak berkendara. 

4. Rantai dan Gear
Bila sudah masanya, maka gear dan rem sebaiknya diganti agar tidak rusak di tengah hutan. Sungguh sayang rasanya kegembiraan luntur akibat kerusakan gear dan rantai.

Demikian langkah-langkah mempersiapkan tamasya. Kiranya perjalanan kita senantiasa menyenangkan.

Sabtu, 05 Desember 2015

Natal Diselenggarakan Lebih Awal, Sudah Rindu Kampung Halaman

Kembali pada 5 Desember 2015, PM GKSBS di Yogyakarta selengggarakan natal bersama. Dalam suasana natal yang sederhana tapi mengena itu, hadir 25 orang personil dari berbagai latar kampus dan jurusan. Natal yang bertajuk "Harmony in Christmast" ini juga dihadiri oleh Pdt. Ferry Romel Orlando Panjaitan, seorang pendeta GKSBS yang melayani Jemaat Padang Ratu, Lampung dan sedang menempuh studi Master Perdamaian di Universitas Kristen Duta Wacana.

Dalam paparannya, Pdt. Ferry mengungkap kata yang pernah terucap kepada keluarga,"...kita memang tidak pulang, tapi bersyukur bisa merasakan kampung karena berkumpul dengan teman-teman mahasiswa di Yogyakarta."

"Kami memang sudah rindu kampung, sebagian teman pulang sih, tapi sebagian enggak, kami sudah rindu pulang...," ungkap seorang anggota.

Firman yang dibagikan tercatat dalam 1 Petrus 1:22 tentang ketulusan dan kasih dalam persaudaraan. Kasih yang tulus tidak mengharap kembali, nyata dan benar-benar dari hati.

Perayaan ini ditutup dengan pembagian hadiah dan sharing pengalaman setelah semalam sebelumnya membagikan nasi kepada orang-orang yang membutuhkan.

Paguyuban Mahasiswa GKSBS di Yogyakarta Selenggarakan Bakti Sosial

Paguyuban Mahasiswa GKSBS (Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan) di Yogyakarta kembali "beraksi". Aksi yang ini bukan aksi koboi-koboian seolah berlagak jagoan di jalanan, bukan itu. Namun, aksi kali ini adalah aksi bakti Sosial.

Bakti sosial ini diselenggarakan pada 4 Desember 2015 dengan tempat keberangkatan adalah STAK Marturia Yogyakarta. Masing-masing yang datang membawa lebih dari satu bungkus nasi dan kemudian dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan di jalanan.

Banyak pengalaman didapatkan oleh anggota ketika membagikan kurang lebih 80 bungkus nasi di tiga spot: lampu Merah Janti, Sagan, dan Sudirman. "kami tadi takut, tapi saya kasih juga sih..." ungkap seorang anggota ketika merasa ragu untuk memberikan nasi kepada orang yang belum dikenalnya.

Aksi seperti ini bagus dilakukan untuk waktu yang akan datang. Masih banyak orang di luar sana yang membutuhkan. Kita harus syukuri keadaan kita sekarang. Jangan mudah mengeluh, seru seorang anggota yang lain.

Kamis, 03 Desember 2015

3 Desember Sebagai Hari Difabel Nasional: Apresiasi Untuk Teman-teman Difabel

Setiap orang dalam posisi apapun tentu punya kontribusi. Setiap orang? Ya, setiap orang tanpa terkecuali. Mereka yang kecil-besar, Dewasa-anak-anak-Lansia, berbagai profesi, dan berbagai latar belakang, kondisi fisik tertentu, dan dimanapun berada tentu termasuk dalam setiap orang itu. Posisinya juga beragam dari berbagai status sosial, jabatan, dan latar belakang. Kontribusinya yakni berupa karya, usaha, dana, dan daya.

Dalam dunia akademik, suatu metode untuk mengenal ini dinamakan dengan apreciate Inquiry yakni suatu metode melihat potensi dari seseorang yang belum dapat dilihat secara sekilas. Untuk mendapatkan potensi itu butuh pengamatan dan penelitian yang tidak sebentar sehingga membutuhkan kesabaran. Dalam bahasa sehari-hari kita mengenal metode ini sebagai,"setiap orang punya kelebihan..."

Setiap orang punya kelebihan termasuk di dalamnya teman-teman difabel. Mereka berkarya dan mampu produktif dalam bidang seni, pertunjukkan, dan olahraga. Masyarakat dunia mengapresiasi potensi ini dengan mengadakan olimpiade difabel. 

kondisi tubuh tidak membatasi orang untuk berkarya. Maka dalam posisi kita sekarang kita masih mampu untuk memberikan kontribusi hingga membuat orang banyak merasakan kebaikan. Salam. Selamat Hari Difabel Nasional!